Mengenal Obat Antivirus

HUMAS - RSUP Fatmawati

Monday, 26 January 2026 12:21 WIB

Responsive image

Gambar dari HUMAS RSUP Fatmawati

Obat antivirus atau antiviral adalah obat yang digunakan untuk mengatasi penyakit akibat infeksi virus. Obat ini tersedia dalam bentuk pil, tablet, sirup, dan cairan intravena. Obat Anti Virus awalnya digunakan untuk mengobati influenza dan herpes simpleks, namun berkembang pesat sejak ditemukannya obat antiretroviral yang efektif terhadap HIV. Mekanisme Kerja Antivirus Virus merupakan mikroorganisme yang membutuhkan sel inang untuk bertahan hidup. Virus menyerang tubuh dengan masuk ke dalam sel sehat dan mengambil alih fungsinya untuk bereplikasi. Selama proses ini, virus menghancurkan dan menginfeksi sel-sel sehat. Oleh karena itu, obat antivirus harus mampu masuk ke dalam sel dan mempengaruhi virus tanpa merusak sel sehat Secara umum, antivirus tidak langsung membunuh virus, melainkan menghambat reproduksinya dan mencegah penyebaran ke sel lain. Akibatnya, jumlah virus berkurang dan sistem imun lebih mudah menghentikan infeksi sehingga gejala menjadi lebih ringan dan komplikasi dapat dicegah Self-Limiting Disease Beberapa infeksi virus bersifat self-limiting, yaitu dapat sembuh sendiri dengan atau tanpa terapi antivirus, misalnya influenza ringan dan COVID-19 bergolongan gejala ringan. Pada kondisi ini, penerapan pola hidup sehat seperti gizi seimbang, hidrasi adekuat, olahraga teratur, kebersihan diri, serta istirahat yang cukup sudah membantu proses penyembuhan melalui aktivasi sistem imun Jenis-Jenis Antivirus Berdasarkan Penyakit a. Antivirus untuk Herpes ?tiga jenis virus herpes yang menyerang kulit, yaitu: Varicella zoster (cacar air, herpes zoster), Herpes simplex tipe I (herpes oral),Herpes simplex tipe II (herpes genital) . Antivirus herpes bekerja dengan mengikat DNA polimerase virus. Contoh obat: acyclovir, valacyclovir, dan famciclovir b. Antivirus untuk Influenza Influenza adalah infeksi virus pada sistem pernapasan. Antivirus influenza bekerja dengan menghambat enzim seperti neuraminidase, sehingga mempercepat perbaikan gejala dan mencegah komplikasi. Contoh obat: Oseltamivir, Zanamivir dan Amantadine. c. Antivirus untuk HPV Infeksi HPV (Human Papillomavirus) merupakan penyakit menular seksual yang dapat menyerang kulit, kelamin, dan berhubungan dengan kanker serviks. Antivirus seperti ribavirin dapat digunakan dalam pengobatan HPV dan infeksi virus saluran napas tertentu. d. Antivirus untuk Hepatitis Hepatitis akibat virus (A, B, atau C) menyerang organ hati. Antiviral bekerja dengan menghambat produksi virus melalui berbagai mekanisme seperti analog nukleosida/nukleotida, protease inhibitor, atau polimerase inhibitor e. Antivirus untuk HIV/AIDS HIV menyerang sistem kekebalan tubuh dan menurunkan kadar sel darah putih sehingga membuat pasien rentan terhadap infeksi. Melalui terapi Antiretroviral (ARV) seperti zidovudine dan efavirenz, pasien dapat hidup normal dengan kualitas yang baik Efek Samping Antivirus Efek samping yang umum termasuk diare ringan (1–4 hari), urtikaria (biduran/gatal), muntah, nyeri perut, mual, kembung, dan neutropenia Kesimpulan Obat antivirus memiliki peran penting dalam menghambat perkembangan virus dalam tubuh, mencegah komplikasi, serta mempercepat pemulihan. Meskipun demikian, tidak semua infeksi virus membutuhkan antivirus karena sebagian bersifat self-limiting dan dapat sembuh dengan dukungan sistem imun tubuh. ________________________________________ Daftar Pustaka (Referensi) 1. Reiss, P., & de Jong, M.D. (1997). Antiviral drugs. Side Effects of Drugs Annual, Elsevier, Volume 20, 269–276. 2. Blanco, F., & Matute, H. (2020). Diseases that resolve spontaneously can increase the belief that ineffective treatments work. Social Science & Medicine, Volume 255. 3. CDC – Influenza Antiviral Drugs. 4. Kompas.com – Apa Itu Self Limiting Disease? Kontributor : Humas – Promkes RSUP Fatmawati.